INDONESIA PEMBAHARUAN,KOTA KUPANG -Upaya menjaga kebersihan lingkungan dan mengatasi persoalan sampah terus dilakukan melalui berbagai inovasi di tingkat kelurahan. Salah satunya dengan mendorong pembuatan lubang biopori di rumah tangga, mengaktifkan kembali bank sampah, serta meningkatkan kesadaran masyarakat dalam mengelola sampah secara mandiri.
Lurah NBS (Nun Baun Sabu) , Ishak Franky Pratama Narakaha, mengatakan bahwa biopori sebenarnya bukan program baru. Namun, inovasi tersebut kembali didorong sebagai solusi bagi masyarakat yang mengalami keterbatasan tempat untuk membuang sampah organik.
Menurutnya, pembuatan lubang biopori dapat dilakukan dengan biaya relatif murah menggunakan bahan sederhana, seperti paralon dan bahan bekas yang masih layak digunakan.
“Kami berinisiatif mendorong masyarakat membuat lubang biopori karena masih banyak warga yang bingung membuang sampah organik. Karena itu, kami mulai dari tingkat RT dan sekarang mendorong penerapannya di rumah tangga,” ujarnya saat diwawancarai, Selasa (20/10/2026).
Ia menjelaskan, pihak kelurahan juga telah mengikuti kegiatan bersama Wali Kota dan mempraktikkan langsung pembuatan lubang biopori. Dari kegiatan tersebut, warga didorong untuk menerapkan metode serupa di lingkungan rumah masing-masing.
Selain biopori, kelurahan juga menyediakan lubang pengolahan sampah organik berukuran sekitar 2 x 2 meter di samping bank sampah unit. Fasilitas ini diharapkan dapat membantu keluarga yang kesulitan mengolah sampah organik secara mandiri.
Di sisi lain, program bank sampah yang telah berjalan sejak 2024 masih terus diupayakan agar memberikan manfaat bagi masyarakat. Namun, kegiatan operasional sempat terkendala akibat kerusakan alat timbang.
Saat ini, pihak pengelola sedang berupaya menggalang dana untuk memperbaiki atau mengganti peralatan tersebut agar pelayanan bank sampah dapat berjalan kembali secara optimal.
Program ini tidak hanya berorientasi pada kebersihan lingkungan, tetapi juga membuka peluang ekonomi melalui pengumpulan dan pengelolaan sampah yang memiliki nilai jual.
Untuk memperkuat pelaksanaannya, pihak kelurahan berencana kembali melakukan sosialisasi kepada seluruh RT, sekolah, dan pelaku usaha. Masyarakat akan didorong memilah sampah sejak dari sumbernya sehingga proses pengumpulan dan pengangkutan dapat berjalan lebih tertib.
Dalam bidang pemberdayaan ekonomi, Ishak juga menyinggung pelaksanaan program dana Pemberdayaan Ekonomi Masyarakat (PEM). Program tersebut telah membantu masyarakat mengembangkan usaha, tetapi pengembaliannya masih menghadapi sejumlah kendala.
Menurutnya, sebagian penerima dana merupakan masyarakat yang tidak memiliki penghasilan tetap. Pendapatan mereka sangat bergantung pada pekerjaan dan kondisi ekonomi sehari-hari, sehingga kemampuan mengembalikan pinjaman belum berjalan optimal.
Pihak kelurahan terus berupaya melakukan pendekatan kepada nasabah agar pengembalian dana dapat berjalan lebih baik. Dengan demikian, dana bergulir tersebut dapat dimanfaatkan kembali oleh warga lain yang membutuhkan modal usaha.
Selain pengelolaan sampah dan pemberdayaan ekonomi, pembangunan infrastruktur lingkungan juga menjadi perhatian pemerintah kelurahan.
Sejumlah usulan sarana dan prasarana kebersihan telah disiapkan, termasuk kebutuhan tempat sampah dan fasilitas pendukung lainnya. Kelurahan juga mendorong keterlibatan masyarakat melalui kerja bakti dan pemeliharaan kebersihan lingkungan.
Ishak menegaskan bahwa keberhasilan program kebersihan tidak hanya bergantung pada pemerintah, tetapi juga membutuhkan perubahan perilaku dan budaya hidup masyarakat.
Ia berharap warga semakin disiplin memilah dan membuang sampah pada tempatnya, sekaligus aktif menjaga lingkungan melalui kerja sama dengan pemerintah kelurahan.
“Kami berharap masyarakat terus berkolaborasi dengan pemerintah untuk menjaga kebersihan lingkungan. (Novie)
