Kadin NTT Dorong Free Trade Zone Kupang-Dili-Darwin, Bidik Lompatan Ekonomi dan Lapangan Kerja




INDONESIA PEMBAHARUAN, KOTA KUPANG – Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Nusa Tenggara Timur (NTT) mendorong percepatan pembentukan Free Trade Zone (FTZ) sebagai strategi membuka peluang investasi, memperluas pasar, meningkatkan daya saing UMKM, sekaligus menciptakan lapangan kerja baru di daerah.


Gagasan tersebut dibahas dalam Focus Group Discussion (FGD) Free Trade Zone yang digelar Kadin NTT dengan menghadirkan pelaku dunia usaha dan perwakilan dari Kepulauan Riau, Batam, serta Badan Pengusahaan (BP) Batam untuk berbagi pengalaman mengenai pengembangan kawasan perdagangan bebas, kupang,selasa 15 September 2026 di wisma Alak. 


Ketua Kadin NTT Boby Lianto mengatakan, posisi geografis NTT yang berada di antara Timor Leste dan Australia merupakan peluang strategis yang harus dimanfaatkan untuk membangun konektivitas ekonomi kawasan.

Menurutnya, konsep FTZ tidak hanya diarahkan untuk kepentingan perdagangan dengan Timor Leste, tetapi juga membangun konektivitas ekonomi antara Kupang, Dili, dan Darwin.

“Ini sangat penting bagi dunia usaha. Kita harus memanfaatkan posisi strategis NTT sebagai pintu gerbang selatan yang berbatasan dengan Timor Leste dan Australia,” ujarnya.


Ia menjelaskan, Kadin NTT bahkan telah membentuk Satgas Percepatan Free Trade Zone sejak sekitar dua tahun lalu. Langkah tersebut dilakukan untuk memastikan agenda FTZ tetap dikawal sebagai kepentingan dunia usaha dan pembangunan ekonomi jangka panjang, meskipun terjadi pergantian pemerintahan daerah.

“Kita mau mengalami suatu lompatan ekonomi, lompatan kuantum ekonomi. Maka dari itu kami mendorong bisa terjadi Free Trade Zone,” tegasnya.


Belajar dari Batam

Dalam FGD tersebut, Kadin NTT juga menggali pengalaman Batam dalam mengembangkan kawasan industri dan perdagangan bebas.


Menurut Ketua Kadin NTT, pengalaman Batam menjadi pembelajaran penting bagi NTT, khususnya dalam menyiapkan regulasi, infrastruktur, tenaga kerja, investasi, hingga ekosistem usaha.


Ia menyebut pemerintah provinsi NTT saat ini telah membentuk tim kerja dan menggunakan jasa konsultan untuk mempersiapkan konsep FTZ. Targetnya, konsep dan arah pengembangan kawasan tersebut dapat mulai dirumuskan pada akhir tahun ini.


“Kita bisa mendapatkan pengalaman dan masukan langsung dari teman-teman di Batam untuk menjadi pelajaran berharga bagi kita,” katanya.


Bidik Pasar Timor Leste hingga Dunia

Kadin NTT juga telah membangun komunikasi dengan pelaku usaha di Timor Leste dan Australia.


Untuk Australia, komunikasi dilakukan dengan Australian Indonesian Business Council (AIBC), sementara hubungan dengan pelaku usaha Darwin diarahkan untuk membuka peluang kerja sama di berbagai sektor.


Salah satu agenda yang didorong adalah pembukaan penerbangan langsung Kupang-Dili dan Kupang-Darwin.

“Dili-Darwin sudah ada direct flight. Kita harapkan itu terus kita dorong,” ujarnya.


Selain perdagangan dan investasi, kerja sama dengan Darwin juga diarahkan pada sektor pendidikan, pariwisata, olahraga dan kesehatan.


Kadin NTT juga tengah mendorong konsep friendship city atau sister city antara Kota Kupang dan Darwin. Rencana penandatanganan nota kesepahaman antara kedua pemerintah kota sedang diinisiasi.


UMKM Jadi Pemasok Industri

Menurut Ketua Kadin NTT Boby , kehadiran industri besar melalui FTZ tidak hanya memberikan manfaat kepada investor, tetapi juga membuka peluang bagi UMKM lokal.


Industri yang masuk ke NTT nantinya diperkirakan membutuhkan berbagai produk dan jasa yang dapat dipasok oleh pelaku UMKM dan industri kecil menengah.

“Dengan adanya industri, adanya investor besar, mereka punya kebutuhan-kebutuhan yang akan disuplai oleh UMKM kita,” katanya.


Ia menilai, selama ini struktur ekonomi NTT masih banyak ditopang oleh usaha mikro, kecil dan menengah. Karena itu, masuknya investasi besar diharapkan dapat menjadi momentum bagi UMKM untuk naik kelas.

“Semakin banyak investasi besar, pasti UMKM akan terdorong untuk naik,” ujarnya.


SDM NTT Harus Dipersiapkan

Selain investasi dan UMKM, Kadin NTT menilai kesiapan sumber daya manusia (SDM) menjadi faktor penting dalam pengembangan FTZ.


Pengalaman Batam menunjukkan bahwa pertumbuhan kawasan industri dapat menciptakan kebutuhan tenaga kerja dalam jumlah besar. Kondisi tersebut menjadi peluang bagi NTT apabila sejak awal mampu menyiapkan tenaga kerja yang sesuai dengan kebutuhan industri.

“Begitu banyak pabrik-pabrik dibuka, SDM kita juga harus mempersiapkan ini,” katanya.


Ia optimistis, jika kawasan industri dan FTZ berkembang di NTT, masyarakat lokal akan memperoleh peluang kerja dan peningkatan kesejahteraan.


Karena itu, Kadin NTT mendorong agar konsep FTZ tidak hanya berorientasi pada perdagangan, tetapi juga membangun ekosistem ekonomi yang menghubungkan investasi, industri, UMKM, tenaga kerja, transportasi, dan pasar internasional.

“Bukan hanya Timor Leste, tetapi from NTT to the world,” pungkasnya.(Novie)