Gelar Sosialisasi,Kelurahan Fontein Perkuat Kepedulian Sampah, Dorong Kolaborasi Warga dan Gereja



INDONESIA PEMBAHARUAN, KOTA KUPANG – Pemerintah Kelurahan Fontein, Kecamatan Kota Raja, Kota Kupang, menggelar sosialisasi pengelolaan sampah dan kepedulian lingkungan di Kantor Lurah Fontein, Selasa (2/9/2026).


Kegiatan tersebut dibuka langsung oleh plt Lurah Fontein, Iwan Taklal dan diikuti sejumlah unsur masyarakat, termasuk Ketua LPM, para ketua RT, pengelola bank sampah, tokoh masyarakat, serta perwakilan warga.


Dalam kegiatan tersebut, plt lurah Fontein  Iwan Taklal menekankan pentingnya mengubah kepedulian terhadap sampah dari sekadar imbauan menjadi tindakan nyata di lingkungan masyarakat.


Iwan mengatakan persoalan sampah tidak dapat diselesaikan hanya oleh pemerintah, Dibutuhkan keterlibatan seluruh elemen masyarakat, termasuk gereja, sekolah, kelompok pemuda, RT/RW dan komunitas lingkungan.


Kelurahan Fontein sebelumnya pernah masuk dalam jajaran kelurahan dengan capaian baik dalam lomba kebersihan. Namun, dalam penilaian terakhir, posisi  kelurahan Fontein mengalami penurunan.

“Ini menjadi catatan bagi kita semua. Kita pernah masuk enam besar, tetapi sekarang terlempar dari 20 besar. Bukan berarti Fontein masuk kategori terburuk, tetapi kondisi ini harus menjadi evaluasi bersama,” katanya.


Iwan juga menyampaikan apresiasi kepada narasumber,  Joseph Leonard kale dinilai memiliki pengalaman dalam pengelolaan kebersihan dan lingkungan serta pernah menjadi salah satu penggerak keberhasilan dalam lomba kebersihan tingkat Kota Kupang.


Ia berharap ilmu yang diberikan tidak berhenti dalam kegiatan sosialisasi, tetapi dapat diterapkan oleh masyarakat di tingkat RT.

“Harapan kita, kegiatan ini tidak berhenti pada sosialisasi. Kita ingin ada gerakan nyata dari masyarakat. Sedikit demi sedikit, kita mulai dari lingkungan masing-masing,” ujarnya.


Sementara Ketua kelompok Green Clien  liliba sebagai narasumber pada kegiatan sosialisasi daur ulang sampah Joseph Leonard kale. ST. M. Si, menyampaikan bahwa  gereja memiliki peran penting dalam membangun kesadaran jemaat. Pesan tentang kepedulian lingkungan tidak cukup hanya disampaikan dari mimbar, tetapi perlu diwujudkan melalui kegiatan nyata.


“Jangan hanya bicara tentang peduli lingkungan dari atas mimbar. Harus ada implementasinya. Kita bisa bekerja sama dengan gereja, melibatkan orang-orang yang memiliki pengaruh dalam struktur organisasi gereja, termasuk anak-anak sekolah minggu,” ujar Yosep. 


Ia berharap keterlibatan anak-anak sekolah minggu dapat menjadi salah satu langkah awal untuk membangun kebiasaan memilah dan mengumpulkan sampah sejak dini.


Salah satu konsep yang didorong adalah mengajak anak-anak sekolah minggu mengumpulkan sampah yang memiliki nilai ekonomi, kemudian ditimbang dan dicatat melalui sistem bank sampah. Dengan demikian, anak-anak tidak hanya belajar menjaga lingkungan, tetapi juga memahami bahwa sampah tertentu masih memiliki nilai manfaat.


Selain persoalan partisipasi masyarakat, Josep juga menyoroti kondisi kebersihan Kelurahan Fontein dalam penilaian kebersihan tingkat Kota Kupang.


Menurut Josep terdapat tiga hal yang perlu diperkuat, yakni kepedulian masyarakat terhadap sampah, inovasi dalam pengelolaan lingkungan, serta penanganan titik-titik kumuh dan ruang terbuka yang menjadi lokasi penumpukan sampah.


 

“Harapan kita, kegiatan ini tidak berhenti pada sosialisasi. Kita ingin ada gerakan nyata dari masyarakat. Sedikit demi sedikit, kita mulai dari lingkungan masing-masing,” ujarnya.



Salah satu konsep yang didorong adalah mengajak anak-anak sekolah minggu mengumpulkan sampah yang memiliki nilai ekonomi, kemudian ditimbang dan dicatat melalui sistem bank sampah. Dengan demikian, anak-anak tidak hanya belajar menjaga lingkungan, tetapi juga memahami bahwa sampah tertentu masih memiliki nilai manfaat.


Selain persoalan partisipasi masyarakat, Josep juga menyoroti kondisi kebersihan Kelurahan Fontein dalam penilaian kebersihan tingkat Kota Kupang.


Ia menyebut masih terdapat sejumlah titik yang perlu mendapat perhatian, termasuk kawasan di sekitar aliran sungai dan lahan kosong yang belum tertangani secara maksimal.


Ketua LPM Soroti Lahan Kosong dan Kurangnya Partisipas masyarakat. 


Sementara Ketua LPM kelurahan Fontein, Jhoni Mandolang, menyoroti persoalan lahan kosong yang menjadi salah satu tantangan dalam menjaga kebersihan lingkungan.


Menurut Jhoni, terdapat sejumlah lahan di wilayah RT 27, RT 25 dan RT 10 yang pemiliknya bukan warga setempat. Kondisi tersebut membuat warga mengalami kesulitan ketika hendak melakukan pembersihan.

“Dari dulu kami sudah menyampaikan kepada lurah yang terdahulu agar pemilik lahan dapat diajak bekerja sama. Kalau lahan tersebut dikelola bersama warga sekitar, tentu akan lebih mudah menjaga kebersihannya,” kata Jhoni.

Ia menilai persoalan kebersihan tidak cukup hanya mengandalkan kelompok bank sampah. Pemanfaatan sampah juga dapat dikembangkan menjadi berbagai kegiatan produktif, termasuk pengolahan sampah organik menjadi pupuk.


Jhoni juga berharap masyarakat yang selama ini menjadi pengelola atau berada di lokasi yang menjadi titik persoalan sampah dapat dilibatkan secara langsung dalam setiap kegiatan.

“Jangan hanya kelompok tertentu yang hadir. Orang-orang yang berada dan mengelola kawasan tersebut juga perlu dihadirkan supaya mereka mendapatkan ilmu dan bisa menerapkannya di lapangan,” ujarnya.


Ia mencontohkan kawasan di sekitar sungai dan jembatan gantung yang masih membutuhkan perhatian serius. Menurutnya, persoalan tersebut harus diselesaikan melalui komunikasi dan kerja sama antara pemerintah kelurahan, pemilik lahan dan masyarakat.


Dorong Pembentukan Forum Bank Sampah

Dalam kegiatan tersebut juga dibahas rencana penguatan kelompok bank sampah di Kelurahan Fontein. Bank sampah diharapkan menjadi salah satu solusi dalam mengurangi sampah sekaligus memberikan nilai ekonomi bagi masyarakat.


Kelurahan Fontein juga mendorong terbentuknya forum bank sampah yang dapat menjadi wadah koordinasi antar-RT dan kelompok masyarakat.


Ke depan, gerakan tersebut diharapkan dapat melibatkan lebih banyak pihak, mulai dari pemerintah kelurahan, RT/RW, gereja, sekolah minggu, sekolah, kampus, komunitas, hingga dunia usaha.


Dengan kolaborasi tersebut, kepedulian terhadap lingkungan diharapkan tidak lagi sebatas slogan, tetapi menjadi gerakan bersama yang dilakukan secara rutin dan berkelanjutan.

“Kalau semua bergerak, mulai dari RT, gereja, sekolah minggu, pemuda dan masyarakat, kita yakin Fontein bisa kembali menjadi kelurahan yang lebih bersih dan tertata,” tutup Jhoni . (Novie)