Tiga Tokoh Pers :Wartawan di Tengah Gempuran AI, Influencer, dan Buzzer Tetap di Butuhkan

 



INDONESIA PEMBAHARUAN KOTA KUPANG-(7-8-2026)Perkembangan teknologi digital yang melahirkan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI), influencer, dan buzzer tidak mengurangi pentingnya peran wartawan sebagai penyaji informasi yang akurat, berimbang, dan dapat dipertanggungjawabkan. Justru di tengah derasnya arus informasi digital, profesi jurnalis semakin dituntut menjaga integritas, profesionalisme, serta berpegang teguh pada kode etik jurnalistik.


Pesan tersebut mengemuka dalam Pelatihan Peningkatan Kapasitas Wartawan yang diselenggarakan Serikat Media Siber Indonesia (SMSI) Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) mengusung tema "Kekuatan Influencer, Buzzer dan AI, Masihkah Wartawan Dibutuhkan?".


Kegiatan berlangsung selama dua hari, 5–6 Agustus 2026, di Sekretariat SMSI NTT, Jalan Artha Graha, Kota Kupang. Pelatihan dibuka secara resmi oleh Wali Kota Kupang, dr. Christian Widodo, dan diikuti puluhan jurnalis anggota SMSI NTT.

Ketua panitia Kosmas olla menjelaskan, pelatihan tersebut bertujuan meningkatkan kapasitas wartawan dalam menghadapi perubahan lanskap media yang berkembang sangat cepat akibat kemajuan teknologi digital.

Tiga tokoh pers menjadi narasumber utama, yakni Frans Paty Heri , Pius Rengka, dan Dion Putra, yang membagikan pengalaman serta pandangan mengenai tantangan dunia jurnalistik di era digital.


Wartawan Memiliki Tanggung Jawab Hukum dan Moral


Dalam pemaparannya, Frans Paty Heri (Wartawan Senior), wartawan  senior di media kompas menegaskan bahwa kemajuan teknologi digital menghadirkan tantangan sekaligus jebakan bagi insan pers. Menurutnya, wartawan tidak boleh terjebak pada arus informasi yang beredar di media sosial tanpa melakukan verifikasi.


"Dewasa ini banyak pemberitaan yang menjebak jurnalis karena tidak melalui proses klarifikasi kepada semua pihak, investigasi lapangan, dan pencarian fakta yang sebenarnya. Kondisi ini sangat disayangkan," ujar Frans.

Ia menegaskan bahwa wartawan memiliki tanggung jawab hukum dan moral yang tidak dimiliki influencer, buzzer maupun AI.

"Produk jurnalistik harus dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya. Berbeda dengan informasi yang disebarkan influencer, buzzer ataupun AI yang belum tentu melalui proses verifikasi jurnalistik," katanya.

Frans menambahkan bahwa masyarakat tetap membutuhkan wartawan yang mampu menyajikan informasi berdasarkan fakta, bukan sekadar mengejar popularitas atau tren di media sosial.

"Penyajian berita yang berkualitas, akurat, berimbang, dan berdasarkan fakta merupakan kekuatan utama wartawan. Hal itu tidak dimiliki influencer, buzzer maupun AI yang cenderung mengejar konten viral tanpa proses jurnalistik yang benar," jelasnya.


Kualitas Tulisan Menentukan Kepercayaan Publik

Sementara itu, tokoh pers , Dr. Pius Rengka (Praktisi Pers / Akademisi / Wartawan Senior / Tokoh Pers Nasional)  menekankan pentingnya kemampuan menulis bagi seorang wartawan.

Menurutnya, berita yang disusun dengan bahasa sederhana namun memiliki makna yang kuat akan lebih mudah dipahami masyarakat.

"Menulis berita dengan kalimat sederhana tetapi memiliki makna besar harus terus dipertahankan oleh jurnalis. Di tengah kecanggihan AI, influencer, dan buzzer, kualitas tulisan tetap menjadi kekuatan utama wartawan," ujar Petrus.

Ia mengingatkan bahwa setiap kata dalam sebuah berita memiliki konsekuensi sehingga wartawan harus teliti sebelum mempublikasikannya.

"Satu kata yang keliru dapat menimbulkan persoalan. Karena itu, wartawan harus membiasakan diri mengecek kembali setiap kalimat, paragraf, maupun data agar informasi yang disampaikan benar," katanya.

Menurut Petrus, wartawan yang mampu menghasilkan karya jurnalistik berkualitas akan selalu dipercaya masyarakat.

"Masyarakat akan selalu mencari tulisan wartawan yang mampu menyajikan informasi secara benar, mendalam, dan mudah dipahami," tuturnya.


Kode Etik Menjadi Fondasi Profesi Wartawan

Narasumber lainnya,Dion DB Putra (Ahli Pers Indonesia)menegaskan bahwa kode etik jurnalistik merupakan fondasi utama dalam menjalankan profesi wartawan.

Menurutnya, kemampuan mencari berita harus selalu diiringi dengan kepatuhan terhadap kode etik agar karya jurnalistik memiliki nilai dan tidak menimbulkan persoalan hukum.

"Kode etik jurnalistik merupakan kunci bagi wartawan dalam mencari dan menyajikan fakta kepada masyarakat," ujar Dion.

Ia menjelaskan bahwa pemahaman terhadap kode etik akan membantu wartawan menjalankan tugas secara profesional sekaligus memberikan perlindungan hukum dalam bekerja.

"Banyak persoalan hukum yang menjerat wartawan terjadi karena kurang memahami atau mengabaikan kode etik. Karena itu, wartawan tidak boleh menggunakan atribut profesinya untuk menekan narasumber, serta wajib menghormati dan melindungi korban dalam setiap pemberitaan," tegasnya.

Dion menambahkan bahwa wartawan tetap menjadi sumber informasi yang paling dibutuhkan masyarakat selama menjalankan profesinya secara profesional.

"Wartawan merupakan pilar kebenaran dalam menyampaikan informasi berdasarkan fakta dan kode etik jurnalistik. Selama prinsip itu dijaga, profesi wartawan akan selalu dibutuhkan," tutupnya.


Peserta Apresiasi Pelatihan SMSI NTT

Pelatihan yang berlangsung selama dua hari tersebut mendapat apresiasi dari para peserta. Mereka menilai materi yang disampaikan para narasumber relevan dengan tantangan jurnalistik di era digital.

Salah seorang peserta, jurnalis DetikNTT.com, Dion Rame, yang akrab disapa Borgol, menyampaikan terima kasih kepada SMSI NTT atas penyelenggaraan pelatihan tersebut.

Menurutnya, pengalaman dan pengetahuan yang dibagikan para narasumber menjadi bekal berharga bagi jurnalis muda.


"Materi yang disampaikan sangat menarik dan mudah dipahami. Kami memperoleh banyak ilmu baru yang belum pernah kami dapatkan selama menjalankan profesi sebagai wartawan. Terima kasih kepada Bapak Petrus Rengka, Bapak Frans Patihering, dan Bapak Dion Putra atas inspirasi dan ilmunya. Terima kasih juga kepada SMSI NTT yang telah menghadirkan pelatihan berkualitas untuk meningkatkan kompetensi wartawan dengan tetap berpedoman pada kode etik jurnalistik," ujar Dion.


Pelatihan ini diharapkan mampu memperkuat profesionalisme wartawan di Nusa Tenggara Timur sehingga tetap menjadi sumber informasi yang kredibel, independen, dan dipercaya masyarakat di tengah pesatnya perkembangan teknologi digital.(Novie)