PENGANGGURAN PEMUDA NTT: ANTARA KETERBATASAN LAPANGAN KERJA DAN LEMAHNYA EKOSISTEM WIRAUSAHA

Eben Domaking (Pegiat Pers & Pemerhati Sosial Politik)

INDONESIA PEMBAHARUAN, KOTA KUPANG - Persoalan pengangguran pemuda di Nusa Tenggara Timur (NTT) bukan sekadar masalah terbatasnya lapangan pekerjaan, tetapi juga tantangan membangun mental kewirausahaan di kalangan generasi muda.


Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi NTT, Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) pada Februari 2026 tercatat sebesar 3,16 persen. Sementara itu, pada Agustus 2025, jumlah pengangguran terbuka mencapai 102.428 orang. Angka ini menjadi pengingat bahwa penciptaan lapangan kerja dan penguatan ekonomi masyarakat harus terus menjadi perhatian serius.


Di tengah situasi tersebut, sebagian pemuda masih menjadikan pekerjaan formal, terutama menjadi pegawai negeri sipil (PNS), sebagai ukuran utama keberhasilan. Tidak ada yang salah dengan cita-cita itu. Namun, ketika pekerjaan formal dianggap sebagai satu-satunya jalan menuju kesejahteraan, pemuda berisiko terjebak dalam penantian panjang tanpa berani menjajaki peluang ekonomi lainnya.


Di sinilah pentingnya membangun mental kewirausahaan. Pemuda perlu didorong untuk berani berinovasi, membaca peluang, dan mengembangkan potensi ekonomi di sekitarnya, mulai dari pertanian, peternakan, perikanan, pariwisata, hingga ekonomi kreatif.


Namun, kita tidak boleh sepenuhnya menyalahkan pemuda. Keberanian berusaha harus didukung akses permodalan, pelatihan yang tepat, pendampingan, teknologi, dan jaringan pemasaran. Pemerintah daerah, lembaga pendidikan, koperasi, perbankan, serta dunia usaha harus mengambil bagian dalam menciptakan ekosistem kewirausahaan yang sehat.


Program pemberdayaan pemuda juga tidak boleh berhenti pada seminar dan pelatihan seremonial. Keberhasilannya harus diukur dari kemampuan pemuda membangun usaha, meningkatkan pendapatan, dan menciptakan lapangan kerja.


NTT memiliki banyak potensi ekonomi, tetapi potensi tersebut tidak akan memberikan manfaat maksimal jika tidak dikelola secara kreatif dan produktif. Karena itu, generasi muda harus dipersiapkan bukan hanya untuk mencari pekerjaan, tetapi juga untuk menciptakan peluang.


Pada akhirnya, pengangguran merupakan tanggung jawab bersama. Pemuda perlu membangun keberanian dan keterampilan, sementara pemerintah harus memastikan tersedianya kesempatan yang adil untuk berkembang.


Sudah saatnya pemuda NTT bergerak dari budaya menunggu pekerjaan menuju budaya menciptakan peluang. Sebab, masa depan NTT tidak hanya ditentukan oleh berapa banyak lapangan kerja yang tersedia, tetapi juga oleh seberapa besar kemampuan generasi mudanya membangun kemandirian ekonomi.