Safira c Abineno Menerima penghargaan Most Trusted School Award 2024 dalam kategori The Most Favorite School in Education Quality Excellent of the Year SMK N 5 Kupang INDONESIA PEMBAHARUAN,KOTA KUPANG –Bengkel-bengkel produktif berdenyut, ruang kelas hidup oleh gagasan, dan mimpi-mimpi vokasi dirawat dengan disiplin,di pusat denyut itu berdiri DRA. Safirah Cornelia Abineno, kepala sekolah yang dikenal bekerja dalam senyap, tegas pada mutu, dan memimpin dengan ukuran kinerja yang terukur.
Di halaman SMKN 5 Kota Kupang, pernah tumbuh sebuah keyakinan bahwa kerja keras akan selalu menemukan jalannya proses
menunjukkan kepemimpinan Safirah menghasilkan capaian kongkret dengan torehan prestasi Indonesia Most Trusted School Award 2024 dalam kategori The Most Favorite School in Education Quality Excellent of the Year.
Penghargaan tersebut dipandang sebagai hasil konsistensi tata kelola pendidikan, kolaborasi guru, serta orientasi pada kualitas pembelajaran.
Sejak 2020, sekolah ini juga ditetapkan sebagai Center of Excellence oleh Kementerian Pendidikan, Riset, dan Teknologi di bidang Energi Terbarukan—sebuah legitimasi kebijakan yang menempatkan SMKN 5 Kupang pada jalur strategis pendidikan vokasi nasional.
Pengakuan negara semakin nyata ketika Presiden Republik Indonesia, Joko Widodo, berkunjung ke SMKN 5 Kupang pada 6 Juni 2023.
Kunjungan itu dimaknai banyak kalangan sebagai penegasan bahwa model pendidikan vokasi yang dikembangkan sekolah tersebut dinilai berhasil menjembatani dunia pendidikan dan kebutuhan industri masa depan.
Di bawah kepemimpinan Safirah, prestasi siswa dan sekolah tercatat rapi. SMKN 5 Kupang meraih Juara I Gebyar SMK melalui pameran produk pembelajaran dari sembilan program keahlian, dengan inovasi energi surya, desain komunikasi visual, hingga pengelasan logam. Pada Olimpiade Sains Siswa Nasional 2025, medali emas diraih di bidang Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris, dan Pengetahuan Umum. Tingkat kelulusan mencapai 100 persen selama beberapa tahun berturut-turut, dengan lulusan yang langsung terserap dunia industri.
Seorang guru senior SMKN 5 Kupang menilai capaian tersebut lahir dari kerja sistemik. Menurutnya, Safirah tidak membangun sekolah berbasis seremoni, melainkan menata fondasi, mulai dari manajemen, disiplin guru, hingga keberanian mendorong inovasi. Ia menyebut kepemimpinan Safirah konsisten berpihak pada mutu, meski sering kali harus berhadapan dengan resistensi internal.
SMKN 5 Kupang kini memiliki sembilan jurusan unggulan, antara lain Teknik Perawatan Gedung, Konstruksi dan Perawatan Bangunan Sipil, Desain Pemodelan dan Informasi Bangunan, Teknik Ketenagalistrikan, Teknik Energi Terbarukan, Teknik Elektronika, Teknik Pengelasan dan Fabrigasi Logam, Teknik Otomotif, serta Desain Komunikasi Visual. Keseluruhan program dirancang adaptif terhadap kebutuhan industri dan pembangunan daerah.
Namun, di balik prestasi yang terukur itu, kronik kepemimpinan Safirah memasuki bab yang lebih gelap. Karier yang dibangun melalui kinerja justru diguncang oleh serangkaian sanksi disiplin ASN yang dinilai banyak pihak tidak berdiri sendiri. Sejumlah sumber menyebut sanksi tersebut muncul dalam pola yang sistematis, berlapis, dan sarat kepentingan, seolah diarahkan untuk mengubur capaian, mematikan inovasi, dan melumpuhkan kreativitas kepemimpinan yang telah teruji.
Safirah disebut mengalami tekanan administratif yang berulang, di mana prestasi tidak lagi menjadi rujukan utama, melainkan ditenggelamkan oleh tafsir disiplin yang kaku dan dipersoalkan prosedurnya. Seorang pengamat pendidikan di Kupang menilai, ketika mekanisme disiplin digunakan tanpa proporsionalitas, yang dipertaruhkan bukan hanya karier individu, tetapi juga kualitas institusi pendidikan itu sendiri.
Dalam pernyataan langsungnya, Safirah menegaskan sikapnya untuk tetap berdiri pada kerja dan kebenaran. “Saya memimpin dengan ukuran kinerja dan tanggung jawab. Inovasi tidak boleh dimatikan oleh kepentingan yang tidak pernah menyentuh ruang kelas,” ujarnya. Jum’at, (16/01/2026).
Dalil membebastugaskan sementara Dra. Safirah Cornelia Abineno rupanya sekaligus mencatat ironi birokrasi dimana seorang kepala sekolah yang berhasil mengangkat martabat pendidikan vokasi justru terjerat mekanisme disiplin yang dipandang tidak sebanding dengan capaian kinerjanya.
Di ruang-ruang sunyi sekolah, sistem yang telah dibangun tetap bekerja, tetapi masa depan kepemimpinan yang melahirkannya dipertaruhkan.
Seperti lilin yang menerangi ruang kelas, Safirah telah membakar dirinya untuk pendidikan.
Kini pertanyaannya bergeser: apakah birokrasi pendidikan hadir untuk melindungi inovasi dan mutu, atau justru menjadi alat sistematis yang memadamkan cahaya dengan dalih penegakan disiplin hanya karena rivalitas yang dicemari bisikan laporan sesat dan kemudian tanpa di saring, langsung di stigma dan dihukum atas nama sanksi ringan yang lalu berubah wujud menjadi sanksi sedang. Mirissss. (**)