![]() |
| Wali Kota Kupang, dr. Christian Widodo, meresmikan peluncuran dua buku berjudul “Melawan Lupa di Kerajaan Taebenu: Jejak Makam dan Istana Raja Tano |
INDONESIA PEMBAHARUAN,KOTA KUPANG + Wali Kota Kupang, dr. Christian Widodo, meresmikan peluncuran dua buku berjudul “Melawan Lupa di Kerajaan Taebenu: Jejak Makam dan Istana Raja Tanof dalam Warisan Budaya Abadi” dan “Serpihan Kisah Raja-Raja Tanof pada Kerajaan Taebenu dan Implikasinya bagi Generasi Muda Masa Kini”. Acara berlangsung di Kompleks Makam Kuno Raja Tanof, Manutapen, Rabu (26/11), dan dihadiri oleh berbagai tokoh penting, antara lain Anggota DPRD Provinsi NTT dan Kota Kupang, antara lain Junaidin Mahasan dan Filmon Loasana, Muhammad Ramli, Kapolsek Alak, serta pejabat di lingkungan Pemerintah Kota Kupang.
Dalam sambutannya, Wali Kota Kupang menyampaikan apresiasi dan penghargaan yang tinggi kepada keluarga besar Tanof serta semua pihak yang telah berkontribusi dalam penyusunan dan peluncuran buku ini. Ia menegaskan bahwa kehadirannya merupakan bentuk cinta dan penghormatan terhadap situs budaya Raja Tanof yang memiliki nilai sejarah penting bagi Kota Kupang.
“Peluncuran buku ini adalah upaya menjaga dan merawat sejarah. Bukan sekadar nostalgia, tetapi juga sarana mengenalkan generasi muda pada nilai-nilai kepemimpinan, semangat juang, dan kesetiaan yang diwariskan oleh Raja-Raja Tanof. Kita harus melestarikan budaya ini, bukan hanya sebagai warisan, tetapi juga sebagai pinjaman dari anak cucu kita,” tegas Wali Kota.
Pada kesempatan tersebut, Wali Kota mengumumkan bahwa Pemerintah Kota Kupang akan mengusulkan situs budaya Raja Tanof sebagai cagar budaya Kota Kupang pada tahun 2026. Pemerintah juga berkomitmen mengalokasikan anggaran untuk penataan, perbaikan, dan pemeliharaan situs tersebut sehingga dapat menjadi destinasi wisata budaya yang memberikan kontribusi bagi Pendapatan Asli Daerah (PAD).
Selain itu, Wali Kota mengusulkan peningkatan fasilitas di kawasan situs, antara lain pemasangan lampu penerangan dan pembangunan titik foto (photo spot) yang menampilkan simbol Kota Kupang, yaitu lambang hati, guna menambah daya tarik pengunjung.
Sebagai penutup, Wali Kota secara resmi meluncurkan kedua buku tersebut dan berharap karya ini dapat menjadi sarana pembelajaran, literatur pendidikan, sekaligus inspirasi bagi generasi muda Kota Kupang.
“Kita bukan hanya membangun kota melalui gedung dan infrastruktur, tetapi juga melalui pelestarian sejarah dan budaya. Dengan menjaga warisan budaya ini, kita bukan hanya menghormati masa lalu, tetapi juga membangun fondasi yang kuat untuk masa depan,” ungkapnya.
Dua buku yang diluncurkan merupakan hasil kerja tim penulis dari UPTD SD Negeri Palsatu. Kepala sekolah yang juga menjadi penulis utama, Belmira Sagrada Ferrao Santos, menjelaskan bahwa proses penelitian dan penulisan berlangsung hampir satu tahun, melibatkan berbagai sumber dan mendapatkan dukungan penuh dari keluarga besar Tanof sebagai narasumber utama.
“Buku ini bukan hanya catatan sejarah, tetapi ajakan untuk melawan lupa. Kami ingin mengingatkan pentingnya merawat warisan leluhur yang kaya akan nilai sejarah, kearifan, dan makna kehidupan,” ujar Belmira.
Perwakilan keluarga besar Tanof, Esau Tanof, menyampaikan terima kasih atas seluruh dukungan Pemerintah Kota Kupang, tim penulis, dan semua pihak yang telah berperan dalam penerbitan buku ini.
Esau berharap buku tersebut dapat menjadi bahan ajar di sekolah-sekolah, sehingga generasi muda mengenal lebih dekat sejarah Raja-Raja Tanof dan memahami nilai perjuangan yang diwariskan.
“Kami sangat berterima kasih kepada Wali Kota Kupang, dr. Christian Widodo, dan semua pihak yang mendukung terbitnya buku ini. Semoga situs budaya kami di Manutapen terus dilestarikan dan menjadi destinasi wisata yang mendorong kesadaran sejarah masyarakat Kota Kupang,” ungkapnya. (*Novie,)
