INDONESIA PEMBAHARUAN,LABUAN BAJO | - Manajemen Hotel Puri Sari Labuan Bajo menyampaikan kekecewaannya terhadap media Floresa.co yang dinilai tidak memberikan ruang yang adil atas hak jawab terkait pemberitaan berjudul "Pelajar PKL yang ‘Dieksploitasi’ Hotel-Hotel di Labuan Bajo: ‘Kami Ini Seperti Staf, Bedanya Staf Itu Digaji’."
General Manager Hotel Puri Sari, Sigit, mengatakan pihaknya sejak awal bersikap terbuka untuk memberikan klarifikasi terhadap isi pemberitaan tersebut. Bahkan, manajemen telah mengirimkan hak jawab secara lengkap kepada redaksi Floresa.co pada Jumat (3/7/2026), namun hingga kini tidak dipublikasikan.
"Kami sangat kecewa karena sebenarnya sejak awal kami terbuka memberikan klarifikasi. Memang tim media tersebut pernah datang melakukan wawancara, tetapi yang dimuat hanya sebagian kecil dari penjelasan kami. Karena itu kami kembali mengirimkan hak jawab secara utuh, namun sampai sekarang tidak diterbitkan," kata Sigit kepada media ini, Sabtu (4/7/2026), di Labuan Bajo.
Menurut Sigit, persoalan ini bukan semata-mata menyangkut nama baik perusahaan, tetapi juga menyangkut dedikasi seluruh karyawan yang selama ini membimbing dan mendampingi para siswa praktik kerja lapangan (PKL) atau vokasi agar memiliki kompetensi yang mampu bersaing di dunia kerja.
"Kami menyampaikan klarifikasi ini dengan hati yang terbuka, namun juga dengan perasaan yang cukup berat. Bagi kami, persoalan ini bukan hanya menyangkut nama baik usaha, tetapi juga menyangkut banyak orang yang selama ini bekerja keras membimbing, mendampingi, dan memberikan ruang belajar bagi siswa training agar menjadi tenaga kerja yang kompeten dan memiliki daya saing," ujarnya.
Ia menegaskan, pihak hotel tidak pernah anti terhadap kritik dan selalu membuka ruang evaluasi. Namun, menurutnya, informasi yang berkembang seharusnya disampaikan secara berimbang agar masyarakat memperoleh gambaran yang utuh.
"Kami memahami bahwa setiap masukan perlu didengarkan. Kami tidak pernah menutup diri terhadap kritik karena kami percaya selalu ada ruang untuk memperbaiki diri. Tetapi kami berharap masyarakat juga mendapatkan informasi secara lengkap, bukan hanya dari satu sisi," katanya.
Menanggapi isu bahwa siswa PKL bekerja tanpa hari libur, Sigit membantah keras tuduhan tersebut.
Ia menjelaskan setiap peserta PKL menjalani masa orientasi kerja selama satu minggu penuh, kemudian memperoleh satu hari libur dan selanjutnya tetap mendapatkan jadwal libur satu kali setiap minggu.
Menurutnya, seluruh data kehadiran siswa tercatat melalui sistem fingerprint sehingga jadwal masuk maupun hari libur dapat diverifikasi kapan saja.
"Informasi bahwa siswa tidak mendapatkan libur itu tidak benar. Kami memiliki data fingerprint yang menunjukkan secara jelas jadwal kehadiran maupun hari libur setiap siswa," tegasnya.
Sigit juga menjelaskan bahwa Hotel Puri Sari memiliki tim Housekeeping yang terdiri dari karyawan tetap. Dalam proses pembelajaran, sebagian karyawan dialihkan ke divisi lain agar peserta PKL memperoleh kesempatan belajar secara langsung, namun tetap berada di bawah pendampingan supervisor.
"Kami sengaja memberikan ruang kepada siswa untuk belajar secara nyata. Mereka tidak pernah dibiarkan bekerja sendiri. Semua proses dilakukan dengan pendampingan dan pengawasan Supervisor Housekeeping," jelasnya.
Ia menambahkan bahwa seluruh program PKL disusun berdasarkan penyelarasan kurikulum bersama pihak sekolah yang mencakup penguasaan keterampilan teknis (task skills), manajemen pekerjaan (task management skills), kemampuan menghadapi situasi kerja (contingency management skills), kemampuan beradaptasi di lingkungan kerja (job/role environment skills), hingga kemampuan transfer keterampilan (transfer skills).
Terkait pemberian uang saku, Sigit menjelaskan seluruh peserta PKL tetap memperoleh uang saku. Sementara peserta dengan peringkat terbaik memperoleh insentif tambahan sebagai bentuk penghargaan atas prestasi dan kedisiplinan mereka.
"Kami memberikan insentif kepada 10 peserta terbaik sebagai bentuk apresiasi. Peserta lainnya tetap menerima uang saku. Sistem ini dibuat untuk memotivasi mereka agar memiliki semangat belajar dan tanggung jawab," katanya.
Mengenai sistem penalty, ia menegaskan mekanisme tersebut bukan bentuk hukuman yang diberikan sembarangan, melainkan bagian dari pembinaan disiplin.
"Penalty hanya diberikan terhadap pelanggaran tertentu seperti keterlambatan masuk kerja. Banyak siswa yang bahkan tidak pernah mendapat penalty karena mereka menjalankan tanggung jawabnya dengan baik," jelas Sigit.
Hotel Puri Sari juga menerapkan larangan penggunaan telepon genggam selama jam kerja. Menurut Sigit, aturan tersebut bukan untuk membatasi komunikasi siswa, melainkan agar peserta fokus mengikuti proses pembelajaran dan memahami budaya kerja di industri perhotelan.
Selain itu, setiap siswa maupun karyawan yang sakit diwajibkan melampirkan surat keterangan dokter sebagai dasar pemberian izin.
"Kami tidak bermaksud mempersulit. Aturan ini diterapkan agar izin sakit memiliki dasar yang jelas dan tidak disalahgunakan. Mereka tetap diberikan kesempatan beristirahat sesuai rekomendasi dokter," ujarnya.
Ia juga memastikan bahwa peserta PKL tidak pernah dijadwalkan bekerja hingga tengah malam.
"Kami tidak pernah memberikan midnight shift kepada trainee. Jadwal kerja paling malam hanya sampai pukul 22.00," tegasnya.
Sigit turut meluruskan informasi mengenai adanya sekitar 10 orang yang disebut keluar dari hotel.
Menurutnya, mereka bukan karyawan tetap, melainkan apprentice, yakni alumni program training yang memang telah menyelesaikan masa kontrak maksimal satu tahun sesuai kesepakatan awal.
Selama menjalani masa apprentice, mereka memperoleh gaji dan service charge layaknya karyawan. Bahkan sebagian di antaranya mendapatkan beasiswa kuliah ke Bali, termasuk bantuan tiket pesawat, akomodasi, serta pendampingan hingga diterima di perguruan tinggi.
"Harapan besar kami, setelah menyelesaikan pendidikan nanti mereka kembali untuk membangun Labuan Bajo dan Flores dengan kompetensi yang lebih baik," ungkapnya.
Di akhir pernyataannya, Sigit mengaku sangat menyayangkan apabila seluruh upaya yang telah dilakukan Hotel Puri Sari selama bertahun-tahun justru dipersepsikan sebagai bentuk eksploitasi terhadap siswa PKL.
Menurutnya, program tersebut bukan sekadar memenuhi kebutuhan operasional hotel, tetapi merupakan bagian dari kontribusi perusahaan dalam mendukung pendidikan vokasi, peningkatan kualitas sumber daya manusia, dan pembangunan ekonomi daerah.
"Kami tidak pernah mengatakan bahwa kami sempurna. Kami juga terbuka terhadap evaluasi. Namun kami berharap jangan langsung ditempatkan sebagai pihak yang mengeksploitasi siswa PKL sebelum seluruh fakta didengar secara lengkap dan berimbang. Kami hanya menginginkan ruang yang adil untuk menjelaskan, karena di balik semua ini ada banyak usaha, kepedulian, dan niat baik yang selama ini benar-benar kami jalankan," tutup Sigit. **
