Paguyuban Ikatan Keluarga Minang Saiyo Sakato,Idul Adha Perkuat Toleransi di Tengah Keberagaman

Paguyuban Ikatan Keluarga Minang Saiyo Sakato (IKM-SS) Kota Kupang 


 INDONESIA PEMBAHARUAN,KOTA KUPANG, 27 Mei 2026 – Paguyuban Ikatan Keluarga Minang Saiyo Sakato (IKM-SS) Kota Kupang kembali melaksanakan tradisi pemotongan hewan kurban dalam perayaan Idul Adha 1447 Hijriah/2026. Tahun ini, komunitas etnis Minang yang tersebar di sejumlah wilayah Nusa Tenggara Timur menyiapkan total 15 ekor hewan, terdiri dari  sapi dan 4 kambing, yang dipotong secara gotong royong di halaman gedung serba guna  keluarga Minang  Oebufu, Rabu pagi usai salat Idul Adha.

 

Di kesempatan itu  Ketua Dewan Kehormatan Etnis Minang , Masril Abdul Manan, S.Pd menyampaikan apresiasi terhadap kekompakan warga Minang dikota  Kupang yang  selalu  menjaga tradisi gotong royong dan semangat berbagi kepada sesama.


Disampaikan Masril bahwa  kegiatan penyembelihan hewan  kurban bukan hanya  tradisi tahunan, tetapi  menjadi sarana mempererat tali  persaudaraan serta  memperkuat nilai toleransi di tengah keberagaman masyarakat Kota Kupang.


Masril menjelaskan bahwa kegiatan kurban juga menjadi bentuk nyata rasa syukur dan ketaatan masyarakat Minang kepada Allah SWT, sekaligus sarana berbagi rezeki kepada masyarakat yang membutuhkan.


“Dengan melaksanakan Idul Adha mampu membuat kami semakin taat beribadah dan terus menjaga nilai sosial dengan berbagi kepada sesama,” tambahnya.


Masril juga  menjelaskan bahwa daging kurban dibagikan dalam kondisi mentah agar masyarakat dapat mengolahnya sendiri di rumah masing-masing.


Ditempat yang sama Ketua Etnis Minang sekaligus Koordinator Panitia Idul Kurban, H. Mualim Chaniago, S.Ag mengungkapkan  bahwa penyembelihan hewan  kurban  pada saat idul adha rutin dilakukan setiap tahun sebagai bentuk rasa syukur sekaligus pengabdian masyarakat Minang kepada Kota Kupang.


“ Memaknai idul adha merupakan perbuatan melambangkan pengorbanan dan kasih, kegiatan tahunan yang  selalu kami   laksanakan. Ada semboyan kami, di mana bumi dipijak di situ langit dijunjung. Kami hidup di Kota Kupang, maka kami juga berusaha membangun dan berbagi untuk masyarakat Kota Kupang,” ujarnya.


Menurutnya, masyarakat Minang yang merantau di Kota Kupang tidak hanya fokus pada komunitas sendiri, tetapi juga aktif membangun hubungan sosial dengan seluruh warga tanpa membedakan agama maupun latar belakang.


Dalam pembagian daging kurban, panitia melibatkan masyarakat sekitar, peserta kurban, warga Minang, hingga tetangga non Muslim. Bahkan sejumlah pendeta dan warga gereja turut menerima kupon pembagian daging kurban.


“Kami tidak menghitung agamanya apa. Semua kami layani karena ini rumah bersama. Warga sekitar, termasuk pendeta dan masyarakat non Muslim juga menerima daging kurban,” katanya.


Ia menjelaskan, total hewan kurban yang dipotong tahun ini mencapai 15 ekor sapi. Sebanyak 12 ekor sapi dipotong oleh kelompok utama Etnis Minang dengan jumlah peserta kurban mencapai 86 orang, ditambah lima ekor kambing.


Sementara tiga ekor sapi lainnya dipotong kelompok perantau Minang dari satu kecamatan di Sumatera Barat yang juga berada di Kupang.


“Secara keseluruhan ada 15 ekor sapi. Alhamdulillah semua dari swadaya masyarakat Minang sendiri,” jelasnya.


Selain memiliki makna ibadah, H. Mualim menegaskan bahwa kurban juga memiliki nilai sosial yang tinggi. Ia mengisahkan kembali keteladanan Nabi Ibrahim AS dan Nabi Ismail AS sebagai dasar pelaksanaan ibadah kurban.


“Makna sosialnya adalah berbagi. Orang yang berkurban hanya berhak menikmati sepertiga, sedangkan dua pertiga lainnya dibagikan kepada masyarakat,” ungkapnya.


Ia juga menyampaikan bahwa masyarakat Minang di Kota Kupang saat ini berjumlah sekitar 388 kepala keluarga yang tersebar di seluruh kecamatan di Kota Kupang.


“Alhamdulillah selama ini warga Minang hidup baik dan taat sebagai warga Kota Kupang,” tambahnya. akikah biasanya dibagikan dalam keadaan sudah dimasak, tetapi kalau kurban dagingnya dibagikan mentah supaya masyarakat bisa memasaknya sendiri bersama keluarga,” tutupnya.(Novie)