Wagub NTT : Jaga Kerukunan Beri Pembekalan Bagi Warga NTT Yang Ingin Keluar Daerah

 

Kunjungan Wagub NTT Johni Asadoma ke kabupaten Karang Assm Bali 


INDONESIA PEMBAHARUAN ,KOTA KUPANG-Usai melakukan kunjungan we nisilaturahmi bersama Pemkab Badung, Wakil Gubernur NTT kemudian menuju ke Kabupaten Karangasem 


Wakil Gubernur NTT dan rombongan ketika tiba di kantor Bupati  langsung disambut hangat oleh Wakil Bupati Karangasem, I Wayan Pandu Prapanca Lagosa beserta jajarannya.


Dalam momentum dialog bersama dengan jajaran Pemerintah Kabupaten Karangasem yang dipimpin Wakil Bupati Karangasem dan juga hadir para tetua adat, tokoh masyarakat setempat, Wakil Gubernur NTT, Johni Asadoma menyampaikan permohonan maaf atas berbagai tindakan yang kurang berkenan dan dinilai telah melanggar norma dan nilai budaya, adat istiadat setempat.


“Tadi kami dari Kabupaten Badung, dan sekarang kami di sini, di Kabupaten Karangasem, karena kami juga mendapat informasi ada oknum warga NTT yang melakukan perbuatan yang melanggar aturan di sini. Selaku pemerintah daerah dan masyarakat NTT, saya menyampaikan permohonan maaf kepada masyarakat Bali, masyarakat Karangasem, para tokoh adat, tokoh masyarakat atas sikap, perilaku, tutur kata anak-anak NTT yang ada di sini, yang telah mengganggu ketenangan, ketenteraman, kedamaian dan produktivitas jalannya kehidupan sosial bermasyarakat dan pembangunan di Karangasem,” ucap Wakil Gubernur NTT.


“Ke depan kami akan menata kembali, baik dalam tata kelola administrasi kependudukan yang lebih tertib, agar setiap warga kami yang pergi dan datang tercatat dengan jelas, juga segala bentuk pembekalan kepada anak-anak kami, warga NTT yang hendak ke luar daerah baik untuk bersekolah atau untuk bekerja, sehingga mereka bisa lebih paham dan adaptif dan menghormati aturan budaya setempat. Kiranya permohonan maaf ini bisa diterima oleh bapa Bupati, Wakil Bupati dan jajaran serta masyarakat adat di Karangasem, sehingga ke depannya kita dapat kembali merajut keharmonisan kehidupan berbangsa dan bernegara seperti sedia kala,” ucap Wagub Johni Asadoma.


Wagub Johni juga menceritakan kisah sejarah antara Bali – NTT yang menurutnya dapat selalu dijadikan pegangan dalam mengarungi kehidupan bermasyarakat hingga saat ini.


“Dulu kita ini Sunda Kecil. History warga NTT di Bali juga sudah sejak lama semenjak Indonesia merdeka. Bahkan dulu ada banyak atlet asal NTT yang berprestasi mengharumkan nama Bali di level nasional. Ini bukti bahwa kita dari dulu punya history yang baik. Tapi kami juga sayangkan ulah para oknum warga kami ini, sehingga buat berbagai hal baik yang selama ini terajut jadi tercoreng. Seperti kata pepatah, ‘nila setitik, rusak susu sebelanga’. Ini yang kami tidak harapkan, namun telah terjadi tapi kami ingin kita bisa perbaiki ini bersama-sama lagi,” ungkapnya.


Senada dengan Wagub Johni Asadoma, Wabup I Wayan Pandu Prapanca Lagosa juga berharap agar semua persoalan gesekan sosial yang terjadi bisa dipulihkan kembali. Secara khusus Ia juga menyampaikan apresiasi kepada Wagub NTT yang bisa hadir di daerahnya untuk langsung menyelesaikan permasalahan tersebut.


“Terima kasih juga kepada Bapak Wakil Gubernur NTT yang telah hadir di sini, di Bali bagian timur, karena ini salah satu hal yang jarang terjadi, pemimpin daerah datang sampai di sini,” kelakar Wabup Karanganyar dalam suasana penuh persaudaraan tersebut.


“Ini juga kehormatan dan kami sangat mengapresiasi kedatangan Bapak dan rombongan. Salah satu semboyan dari Presiden Soekarno, yakni ‘Jas Merah’ (Jangan Sekali kali meninggalkan sejarah). Ini yang menggambarkan antara Bali dan NTT. Kedua daerah yang punya sejarah panjang sejak negara kita merdeka,” lanjut Wabup Karanganyar.


Lebih lanjut, Wabup I Wayan Pandu juga menerangkan hal yang sama seperti Sekda Badung, dimana setiap masyarakat di daerahnya selalu dengan tangan terbuka menyambut saudara-saudara sebangsa setanah air lainnya untuk datang bekerja hingga menempuh pendidikan. Namun ia juga menekankan agar setiap warga luar yang datang di daerahnya untuk tetap menghormati setiap nilai-niali budaya adat istiadat setempat.


“Kami selalu menerima saudara-saudara dari luar Bali dengan tangan terbuka. Khusus suadara-saudara kami dari NTT sudah sejak lama mereka juga bekerja di sini di beberapa sektor pembangunan dan tentu berkontribusi. Ada beberapa persoalan, tapi kami juga berharap bersama Pemerintah Daerah NTT agar kita sama-sama bisa cari jalan keluarnya,” jelasnya.


Sementara itu, Jro Bendesa Desa Adat Selat I Wayan Gede Mustika atau orang yang dituakan di Desa Adat Selat, salah satu desa di Kabupaten Karangasem mengatakan sebenarnya warga desanya tidak keberatan dengan warga dari luar Bali yang ada di wilayah desanya, selama mentaati aturan adat setempat. Ia juga meminta agar setiap orang yang datang ke daerahnya bisa melaporkan diri ke pihak RT supaya terdata dengan baik dan bisa menjamin keamanan dan kenyamanan bersama.


“Pertama-tama, saya juga mengapresiasi kehadiran Bapak Wagub NTT di sini. Karena setiap persoalan, jika diatasi bersama-sama maka akan lebih mudah diselesaikan. Tujuan kami sederhana, kami hanya ingin kita sama-sama bisa hidup berdampingan dengan nyaman dan aman. Untuk itu, saya juga meminta agar setiap orang yang datang, sebelumnya telah dibekali pemahaman agar bisa selalu melapor diri kepada aparatur di desa ini. Kami ada Pecalang, tapi juga kesulitan dalam mendata warga dari luar, maka dari itu kami juga ingin kita bekerja sama supaya semuanya tertib,” katanya.


Sebelumnya, diinformasikan juga oleh Wakil Gubernur NTT, Johni Asadoma kepada jajaran kedua pemerintah kabupaten Badung dan Karangasem dalam momentum silaturahmi tersebut, bersama kehadiran para tokoh masyarakat, tokoh agama dan tokoh adat setempat, dan Diaspora NTT di Bali, bahwa pada Rabu (28/1) bertempat di Labuan Bajo, Kabupaten Manggarai Barat, Provinsi NTT, Pemprov Bali bersama Pemprov NTT telah menyepakati Komitmen Harmoni Kehidupan Bersama.


Komitmen bersama tersebut ditandai dengan penandatanganan oleh Gubernur NTT, Emanuel Melkiades Laka Lena dan Gubernur Bali, I Wayan Koster.


Komitmen ini disepakati dalam rangka mempererat hubungan antara masyarakat Bali dan NTT, sebagai upaya memperkuat persaudaraan, menjaga ketertiban sosial, serta menjunjung nilai-nilai kebangsaan.


Komitmen ini merupakan bentuk tanggung jawab bersama kedua pemerintah provinsi dalam mewujudkan kehidupan bermasyarakat yang harmonis, rukun, aman, dan berkeadilan dalam bingkai Negara Kesatuan Republik Indonesia.(*)